Rabu, 16 Agustus 2023

Desa Y Ngadirejo Adakan Sedekah Bumi, Menceritakan Turunnya Wahyu Tejomoyo




http://Linggauaktual.com Musi Rawas -Sedekah Bumi Desa Ngadirejo Tahun 2023 Semoga Masyarakat Menjadi Rukun Aman Sejahtera, Acara yang di hadiri langsung oleh Helmi camat Tugumulyo, Kosim Kapolsek, Danramil beserta rombongan Kades se Kecamatan. berlangsung di lapangan desa Y Ngadirejo Dengan mengangkat tema “Dengan Sedekah Bumi.Kita Wujudkan Rasa Persatuan dan Kekeluargaan Menuju Ngadirejo Mandiri,” Selasa, 15 Agustus 2023.


Dalam sambutannya, Dian Prasetio menyampaikan pentingnya sedekah bumi sebagai wujud keharmonisan antara manusia dan alam, serta rasa syukur atas karunia Tuhan Yang Maha Esa, termasuk hasil panen melimpah, kesejahteraan, dan kesehatan. Dia juga mengucapkan terima kasih kepada warga desa Y. Ngadirejo atas undangan dalam acara tasyakuran sedekah bumi tersebut dan menegaskan dukungan penuh pemerintah terhadap pelestarian tradisi budaya seperti Sedekah Bumi. Pagelaran wayang kulit ini harus selalu dijaga dengan baik karena dengan menjaga tradisi budaya ini, kita juga melestarikannya agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman, ujar tokoh muda ini.


Pemerintah setidaknya selalu mendukung kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian seperti Sedekah Bumi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan budaya,” ucap Ms Dian sebutan akrabnya yang memiliki slogan Bamgga Jadi Anak Petani. Edi Suhendro, selaku kepala desa, juga menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Desa Y. Ngadirejo yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan acara tasyakuran sedekah bumi. Dia berharap kedepannya Allah SWT senantiasa memberikan rezeki yang melimpah bagi seluruh masyarakat desa tersebut.


Di akhir sambutannya. Acara dilanjutkan dengan makan bersama  dengan seluruh warga desa Y Ngadirejo menciptakan suasana kebersamaan dan kehangatan di antara semua peserta. Sedikit gambaran cerita Edi Suhendro mencuplik cerita Dalang dan tim wayang kulit yaitu Ringkasan Cerita Wayang WAHYU TEJO MOYO


Di Kerajaan Amarta, Pandawa bersidang untuk mendapatkan Wahyu Tejo Moyo yang diturunkan oleh dewa, demi ketentraman rakyat Amarta, untuk memperlancar usaha tersebut Pandawa meminta bantuan  Ki lurah Semar, di pihak lain Kurawa juga menginginkan hal yang sama, maka atas bantuan Betari Durga, Kurawa di rubah wujudnya menjadi Pandawa Palsu.

Maka Terjadilah Pandawa Kembar, Ki Lurah Semar tanggap atas situasi tersebut maka dimintalah Pandawa untuk menyatu (manjing) ke dalam Tubuh Semar, sehingga berhasil mendapatkan Wahyu Tejo Moyo demi Kepentingan kerajaan & Rakyat Amarta. Wahyu Tejo Moyo bisa diartikan sebagai cahaya kehidupan, cahaya yang mampu membawa pada masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, tenteram.


Dalam lakon ini diceritakan, banyak orang yang berebut wahyu itu. Mereka ingin memimpin rakyatnya. Namun, ada dua perbedaan yang mencolok di antara kelompok yang memperebutkan wahyu itu. Satu kelompok adalah kelompok baik yang mencari wahyu memang untuk kepentingan rakyat, sementara itu kelompok lain mencari wahyu hanya untuk mempertahankan kekuasaannya. Harapan tersebut pungkas Edi Suhendro bisa menjalankan roda kepemimpinan lebih baik mengambil  tokoh pewayangan tersebut. Kehadiran tokoh tokoh yang ada di acara pewayangan sangat senang adanya acara tersebut mendidik dengan baik hal tersebut semakin menguatkan semangat untuk menjaga dan melestarikan tradisi Sedekah Bumi guna mencapai persatuan dan kekompakan di Desa Ngadirejo. (Ri)

0 komentar:

Posting Komentar