Minggu, 02 Juli 2023

Udara Yang Sehat dan Bersih Pengaruhi Perkembangan Bayi


Udara, sesuatu yang selama ini hanya dianggap sebagai pelengkap hidup, rupanya memiliki rencana jahat untuk mengacaukan perkembangan kognitif si kecil. Sudah banyak penelitian yang mengungkapkan bahaya polusi udara bagi pernapasan manusia, tetapi kini sebuah penelitian terbaru dari University of East Anglia (UEA) di Inggris menyoroti dampak buruknya pada perkembangan kognitif bayi dan balita. Para peneliti brilian ini melacak jejak keluarga di desa-desa di India, dan hasil penelitian mereka begitu mencengangkan.

Temuan ini seolah membangunkan kita dari tidur panjang, sebab dampaknya tidak hanya berlangsung sementara, melainkan membawa konsekuensi serius untuk masa depan si kecil. Oleh karena itu, kita harus segera mengambil tindakan untuk membatasi akibat negatif yang ditimbulkan terhadap pertumbuhan otak sang bayi.

Tim peneliti dari UEA berkolaborasi dengan Lab Pemberdayaan Masyarakat di Lucknow, India. Mereka adalah sosok-sosok pemberani yang berani terjun langsung ke masyarakat pedesaan untuk melakukan penelitian dan inovasi di bidang kesehatan secara global.

BACA JUGA :

"Sebelumnya, penelitian sudah menunjukkan keterkaitan antara kualitas udara yang buruk dengan gangguan kognitif dan masalah emosional pada anak-anak. Dampaknya sangat merugikan bagi keluarga," ungkap Profesor John Spencer, sosok hebat yang menjabat sebagai peneliti utama dari Sekolah Psikologi UEA.

Ia menambahkan bahwa yang paling penting adalah partikel-partikel kecil dalam udara yang dengan licik dapat bergerak dari saluran pernapasan dan merayap menuju otak.

Yang menarik, penelitian sebelumnya tidak berhasil menemukan keterkaitan antara kualitas udara yang buruk dan masalah kognitif pada bayi. Mungkin karena otak bayi sedang berada pada puncak perkembangannya dan sangat rentan terhadap racun yang mengintai.

Untuk membuktikan hipotesis ini, penelitian dilakukan di komunitas pedesaan Shivgarh, Uttar Pradesh, India, sebuah wilayah yang terpapar polusi udara tinggi. Di sana, 215 bayi menjadi subjek penelitian melalui tugas-tugas kognitif yang dirancang secara khusus untuk mengukur kemampuan memori kerja visual dan kecepatan pemrosesan visual. Para peneliti menampilkan kotak-kotak berwarna yang berkedip di depan mata bayi-bayi tersebut. Beberapa kotak berubah warna setiap kali berkedip, sementara yang lain tetap dengan warna yang sama.

"Tugas ini mengamati apakah bayi-bayi tersebut akan mengalihkan pandangan mereka dari sesuatu yang sudah akrab secara visual ke sesuatu yang baru. Kami penasaran untuk melihat apakah bayi-bayi ini bisa mendeteksi perubahan tersebut dan seberapa baik mereka melakukannya ketika tugas semakin rumit dengan munculnya lebih banyak kotak dalam setiap tampilan," jelas Profesor Spencer dengan penuh semangat.

Selain mengukur kualitas udara di rumah-rumah para bayi, para peneliti juga mempertimbangkan dan mengendalikan faktor-faktor sosial dan ekonomi keluarga dalam analisis mereka.

Hasil penelitian yang menggegerkan ini menunjukkan keterkaitan yang nyata

1 komentar: